A.
Pengertian
Analisis Kebutuhan Pendidikan
John Mc Neil (1985)
mendefinisikan need assessment sebagai “the process by which one defines
educational needs and decides what their priorities are” (assessment adalah
proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan).
Pendidikan yang bermutu
dapat diukur dari pemenuhan harapan masyarakat yang memfokuskan pelayanannya
pada kebutuhan pelanggan, baik pelanggan di dalam organisasi (intern costumers) maupun pelanggan di
luar organisasi (exsternal costumers).
Pemenuhan kebutuhan pelanggan tersebut merupakan usaha organisasi untuk menjaga
kualitas, dengan harapan pelanggan tetap percaya dan bertahan pada produk dan
jasa yang dihasilkan organisasi. Begitu juga dalam organisasi pendidikan,
sekolah yang berkualitas selalu memenuhi kebutuhan dan harapan guru, siswa,
masyarakat, pemerintah.
Dalam menentukan
kebutuhan pendidikan menurut Kaufman, Corrigan dan Johnson (1969) dapat
menggunakan model yang memfokuskan pada unsur-unsur penting yaitu, kurikulum,
pengetahuan alam, kebiasaan belajar, dan kebiasaan masyarakat. Model ini
mempertimbangkan budi pekerti menjadi unsur formal untuk ditetapkan sebagai
kebutuhan, dengan menganalisis kebiasaan pendidik berdasarkan pengetahuan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat, pelajar dan pendidik.
Model penetapan
kebutuhan pendidikan menurut Kaufman dan Harsh (1969) terdiri dari, yaitu :
Ø
Model Induktif
Model induktif dimulai
dari fakta, tujuan, harapan, dan hasil dari suatu kegiatan nyata pendidikan
dalam masyarakat. Pada model ini difokuskan bagaimana data diperoleh dari
lingkungan dan program pendidikan pada lembaga persekolahan. Dalam menggunakan
model ini yang harus dilakukan memiliki perencanaan, lalu menyusun kedalam
suatu program dan harapan tingkah laku. Untuk menyatukan ketidak cocokan antara
harapan dan kenyataan, maka ditentukan tujuan-tujuan yang mengarah kepada
tingkah laku yang diperlukan masyarakat. Dari tujuan-tujuan terperinci ini
program pendidikan akan bisa dibangun, diterapkan, dan tujuan dapat diperiksa
dan merevisi kembali sesuai dengan kebutuhan.
Ø
Model Deduktif
Model deduktif dimulai
dari tujuan, pernyataan, dan pendapat untuk menarik kesimpulan terhadap program
pendidikan. Dalam menggunakan model ini, dititik beratkan pada kegiatan untuk
mengidentifikasi dan memilih tujuan pendidikan agar terjadinya perubahan pada
lingkungan sekolah. Ukuran kriteria (indicator nyata) yang dapat digunakan
dalam menentukan tujuan pendidikan.
Ø
Model Klasik
Model klasik sebagai
model yang sering digunakan dewan pendidikan yang dimulai dari beberapa
pernyataan umum masing-masing tujuan. Proses ini ditujukan untuk mengembangkan
program pendidikan yang dapat diterapkan dan dievaluasi pada masing-masing
lembaga pendidikan.
B.
Fungsi
Analisis Kebutuhan dalam pendidikan
Metode Need
Assessment dibuat untuk bisa mengukur tingkat kesenjangan yang terjadi
dalam pembelajaran siswa dari apa yang diharapkan dan apa yang sudah didapat.
Dalam pengukuran kesenjangan seorang analisis harus mampu mengetahui seberapa
besar masalah yang dihadapi. Beberapa fungsi Need Assessment
menurut Morisson sebagai berikut:
1.
Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas
sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
2. Mengidentifikasi kebutuhan
mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang
menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
3. Menyajikan prioritas-prioritas
untuk memilih tindakan.
4. Memberikan data basis untuk menganalisa
efektifitas pembelajaran.
5. Ada enam macam kebutuhan yang
biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan pendidikan
(Morrison, 2001: 28-30) :
6. Kebutuhan Normatif, Membandingkan
peserta didik dengan standar nasional, misal, UAN,SNMPTN, dan sebagainya.
7. Kebutuhan Komperatif,
membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang
selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
8. Kebutuhan yang dirasakan, yaitu
hasrat atau kinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu
ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat
ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk
mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
9. Kebutuhan yang diekspresikan,
yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan.
Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
10. Kebutuhan Masa Depan, Yaitu
mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal,
penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
11.
Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di
luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis,
bencana alam, dan sebagainya.
C.
Tujuan Analisis Kebutuhan Pendidikan
Salah satu pembagian
kebutuhan manusia yang terkenal dikemukakan oleh Abraham Maslow, yang melihat
adanya hierarkhi dalam kebutuhan, yaitu kebutuhan akan:
1.
Survival (fisiologis).
2.
Security (emosional).
3.
Love and belonging (sosial).
4.
Self esteem (personal).
5.
Self actualization (personality).
Menurut
Maslow suatu kebutuhan hanya dapat dipuaskan bila kebutuhan pada tingkat yang
lebih rendah telah terpenuhi.
Definisi
analisis kebutuhan menurut Roger Kaufman dan Fenwick W. English yang menyatakan
bahwa analisis kebutuhan adalah suatu proses formal untuk menentukan jarak atau
kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak
yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala
prioritas, lalu memilih hal yang paling penting untuk diselesaikan masalahnya.
Dalam hal ini kebutuhan yang diinginkan adalah untuk memperoleh keluaran dan
dampak yang ditentukan. Pada suatu sistem pendidikan, prestasi belajar siswa
merupakan tujuan, sedangkan pendidikan merupakan sebuah alat, seperangkat proses
dan cara-cara bagaimana membantu siswa untuk memiliki kemampuan agar dapat
mempertahankan kehidupan sendiri serta mempunyai peran terhadap masyarakat
sekitar bahkan jika mungkin umat sedunia, setelah mereka menyelesaikan
sekolahnya.
D.
Pedoman Penetapan Kebutuhan Pendidikan
Pedoman penetapan
kebutuhan ini pada awalnya dikemukakan oleh Kaufman, Corriga, dan Johnson
(1969), mereka mengusulkan kegunaan satu model untuk keseluruhan pendidikan.
Pada akhirnya diharapkan siswa berhasil dan survive dalam kelangsungan hidupnya
sesuai dengan yang dicita-cita mereka. Kelangsungan hidup diartikan
terpenuhinya kebutuhan pokok atau konsumsi seorang individu sesuai dengan
penghasilannya. Konsumsi seseorang dari segi ekonomi adalah diukur dari
pengeluaran biaya dengan penghasilan atau pemasukan biaya.
Pada dasarnya
kelangsungan hidup dapat dikatakan adanya keseimbangan antara konsumsi dengan
penghasilan. Penggunaan model ini bagi seorang pendidik sangat penting dalam
merancang sistem pendidikan untuk mencapai hasil yang minimal bagi kelompok
siswa.
Setelah kebutuhan
ditentukan, selanjutnya diurutkan menurut tingkat kepentingannya, dengan cara
menganalisa masing-masing kebutuhan sesuai dengan manfaat dan prioritas
pencapaiannya. Penentuan prioritas ini adalah penting yang didasarkan waktu dan
biaya pada setiap kebutuhan dalam kegiatan pendidikan dengan mempertimbangkan
sumber-sumber dan dana harus dialokasikan sesuai dengan prioritas dan hasil.
Beberapa kriteria
penentuan prioritas adalah melakukan penilaian terhadap masing-masing
kebutuhan. Penetapan prioritas adalah dengan menyusun dan mengidentifikasi
kebutuhan dengan prioritas utama, memahami kebutuhan yang cocok dengan masalah
dan cara memecahkannya.
Kelemahan dalam penetapan kebutuhan ini
adalah ketidaksesuaian yang ditinjau dari tingkah laku siswa dan kegagalan
untuk memenuhi penyempurnaan. Identifikasi elemen dalam penetapan kebutuhan
dapat diukur sesuai dengan standar atau yang seharusnya di dalam pengukuran.
E. Penggunaan Beberapa Model Lainnya
Pertama,
model Sweigert sebagai penetapan kebutuhan secara rinci sebagai langkah dalam
pemecahan masalah pendidikan.
Dia
mengusulkan karakteristik untuk menetapkan suatu kebutuhan, yaitu:
1.
Terpusat pada kebutuhan siswa
2.
Mengidentifikasi pencapaian kelompok siswa
3.
Kriteria untuk mengevaluasi kemajuan terhadap kebutuhan
4.
Kebutuhan yang kritis
5.
Ukuran penetapan
6.
Penemuan komitmen secara umum
Kedua, model
Sttafflebean (1968) yang mengusulkan beberapa pertimbangan oleh pendidik dalam
menentukan kebutuhan, diantaranya :
1.
Kontek Evaluasi, analisis secara teratur dari sebuah bendanya.
2.
Masukkan evaluasi belajar dari fasilitas, pegawai, pelayan.
3.
Proses evaluasi dan urutan kondisi dalam program.
4.
Evaluasi dan perubahan yang diharapkan.
Dari dua
model tersebut, dapat dilihat langkah-langkah dalam penyusunan rencana dan
kebijakan kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diantaranya:
1.
Merumuskan rencana.
2.
Mengenali masalah.
3.
Mengenali ruang lingkup masalah.
4.
Mengenali kebutuhan dan proses seleksi.
5.
Menentukan kondisi belajar dengan memfokuskan pada fisik dan mental siswa
dalam mengembangkan karakteristik.
6.
Menentukan kondisi kebutuhan dengan memfokuskan pada pelajar.
7.
Mencocokan keadaan dengan rencana.
8.
Menentukan prioritas.
9.
Menjamin kelanjutan penyelenggaraan pendidikan pada masa yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar