Senin, 16 Mei 2016

Analisis Kebutuhan Pendidikan

A.               Pengertian Analisis Kebutuhan Pendidikan

John Mc Neil (1985) mendefinisikan need assessment sebagai “the process by which one defines educational needs and decides what their priorities are” (assessment adalah proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan).

Pendidikan yang bermutu dapat diukur dari pemenuhan harapan masyarakat yang memfokuskan pelayanannya pada kebutuhan pelanggan, baik pelanggan di dalam organisasi (intern costumers) maupun pelanggan di luar organisasi (exsternal costumers). Pemenuhan kebutuhan pelanggan tersebut merupakan usaha organisasi untuk menjaga kualitas, dengan harapan pelanggan tetap percaya dan bertahan pada produk dan jasa yang dihasilkan organisasi. Begitu juga dalam organisasi pendidikan, sekolah yang berkualitas selalu memenuhi kebutuhan dan harapan guru, siswa, masyarakat, pemerintah.

Dalam menentukan kebutuhan pendidikan menurut Kaufman, Corrigan dan Johnson (1969) dapat menggunakan model yang memfokuskan pada unsur-unsur penting yaitu, kurikulum, pengetahuan alam, kebiasaan belajar, dan kebiasaan masyarakat. Model ini mempertimbangkan budi pekerti menjadi unsur formal untuk ditetapkan sebagai kebutuhan, dengan menganalisis kebiasaan pendidik berdasarkan pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pelajar dan pendidik.
Model penetapan kebutuhan pendidikan menurut Kaufman dan Harsh (1969) terdiri dari, yaitu :

Ø    Model Induktif
Model induktif dimulai dari fakta, tujuan, harapan, dan hasil dari suatu kegiatan nyata pendidikan dalam masyarakat. Pada model ini difokuskan bagaimana data diperoleh dari lingkungan dan program pendidikan pada lembaga persekolahan. Dalam menggunakan model ini yang harus dilakukan memiliki perencanaan, lalu menyusun kedalam suatu program dan harapan tingkah laku. Untuk menyatukan ketidak cocokan antara harapan dan kenyataan, maka ditentukan tujuan-tujuan yang mengarah kepada tingkah laku yang diperlukan masyarakat. Dari tujuan-tujuan terperinci ini program pendidikan akan bisa dibangun, diterapkan, dan tujuan dapat diperiksa dan merevisi kembali sesuai dengan kebutuhan.

Ø    Model Deduktif
Model deduktif dimulai dari tujuan, pernyataan, dan pendapat untuk menarik kesimpulan terhadap program pendidikan. Dalam menggunakan model ini, dititik beratkan pada kegiatan untuk mengidentifikasi dan memilih tujuan pendidikan agar terjadinya perubahan pada lingkungan sekolah. Ukuran kriteria (indicator nyata) yang dapat digunakan dalam menentukan tujuan pendidikan.



Ø    Model Klasik
Model klasik sebagai model yang sering digunakan dewan pendidikan yang dimulai dari beberapa pernyataan umum masing-masing tujuan. Proses ini ditujukan untuk mengembangkan program pendidikan yang dapat diterapkan dan dievaluasi pada masing-masing lembaga pendidikan.

B.               Fungsi Analisis Kebutuhan dalam pendidikan

Metode Need Assessment dibuat untuk bisa mengukur tingkat kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran siswa dari apa yang diharapkan dan apa yang sudah didapat. Dalam pengukuran kesenjangan seorang analisis harus mampu mengetahui seberapa besar masalah yang dihadapi. Beberapa fungsi Need Assessment menurut Morisson sebagai berikut:
1.    Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
2.    Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
3.    Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
4.    Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
5.    Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan pendidikan (Morrison, 2001: 28-30) :
6.    Kebutuhan Normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, UAN,SNMPTN, dan sebagainya.
7.    Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
8.    Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau kinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
9.    Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
10. Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
11. Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.

C.   Tujuan Analisis Kebutuhan Pendidikan

Salah satu pembagian kebutuhan manusia yang terkenal dikemukakan oleh Abraham Maslow, yang melihat adanya hierarkhi dalam kebutuhan, yaitu kebutuhan akan:

1.            Survival (fisiologis).
2.            Security (emosional).
3.            Love and belonging (sosial).
4.            Self esteem (personal).
5.            Self actualization (personality).

Menurut Maslow suatu kebutuhan hanya dapat dipuaskan bila kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah telah terpenuhi.

Definisi analisis kebutuhan menurut Roger Kaufman dan Fenwick W. English yang menyatakan bahwa analisis kebutuhan adalah suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas, lalu memilih hal yang paling penting untuk diselesaikan masalahnya. Dalam hal ini kebutuhan yang diinginkan adalah untuk memperoleh keluaran dan dampak yang ditentukan. Pada suatu sistem pendidikan, prestasi belajar siswa merupakan tujuan, sedangkan pendidikan merupakan sebuah alat, seperangkat proses dan cara-cara bagaimana membantu siswa untuk memiliki kemampuan agar dapat mempertahankan kehidupan sendiri serta mempunyai peran terhadap masyarakat sekitar bahkan jika mungkin umat sedunia, setelah mereka menyelesaikan sekolahnya.

D.   Pedoman Penetapan Kebutuhan Pendidikan

Pedoman penetapan kebutuhan ini pada awalnya dikemukakan oleh Kaufman, Corriga, dan Johnson (1969), mereka mengusulkan kegunaan satu model untuk keseluruhan pendidikan. Pada akhirnya diharapkan siswa berhasil dan survive dalam kelangsungan hidupnya sesuai dengan yang dicita-cita mereka. Kelangsungan hidup diartikan terpenuhinya kebutuhan pokok atau konsumsi seorang individu sesuai dengan penghasilannya. Konsumsi seseorang dari segi ekonomi adalah diukur dari pengeluaran biaya dengan penghasilan atau pemasukan biaya.

Pada dasarnya kelangsungan hidup dapat dikatakan adanya keseimbangan antara konsumsi dengan penghasilan. Penggunaan model ini bagi seorang pendidik sangat penting dalam merancang sistem pendidikan untuk mencapai hasil yang minimal bagi kelompok siswa.

Setelah kebutuhan ditentukan, selanjutnya diurutkan menurut tingkat kepentingannya, dengan cara menganalisa masing-masing kebutuhan sesuai dengan manfaat dan prioritas pencapaiannya. Penentuan prioritas ini adalah penting yang didasarkan waktu dan biaya pada setiap kebutuhan dalam kegiatan pendidikan dengan mempertimbangkan sumber-sumber dan dana harus dialokasikan sesuai dengan prioritas dan hasil.

Beberapa kriteria penentuan prioritas adalah melakukan penilaian terhadap masing-masing kebutuhan. Penetapan prioritas adalah dengan menyusun dan mengidentifikasi kebutuhan dengan prioritas utama, memahami kebutuhan yang cocok dengan masalah dan cara memecahkannya.
Kelemahan dalam penetapan kebutuhan ini adalah ketidaksesuaian yang ditinjau dari tingkah laku siswa dan kegagalan untuk memenuhi penyempurnaan. Identifikasi elemen dalam penetapan kebutuhan dapat diukur sesuai dengan standar atau yang seharusnya di dalam pengukuran.

E.   Penggunaan Beberapa Model Lainnya

Pertama, model Sweigert sebagai penetapan kebutuhan secara rinci sebagai langkah dalam pemecahan masalah pendidikan.
Dia mengusulkan karakteristik untuk menetapkan suatu kebutuhan, yaitu:

1.            Terpusat pada kebutuhan siswa
2.            Mengidentifikasi pencapaian kelompok siswa
3.            Kriteria untuk mengevaluasi kemajuan terhadap kebutuhan
4.            Kebutuhan yang kritis
5.            Ukuran penetapan
6.            Penemuan komitmen secara umum

Kedua, model Sttafflebean (1968) yang mengusulkan beberapa pertimbangan oleh pendidik dalam menentukan kebutuhan, diantaranya :

1.            Kontek Evaluasi, analisis secara teratur dari sebuah bendanya.
2.            Masukkan evaluasi belajar dari fasilitas, pegawai, pelayan.
3.            Proses evaluasi dan urutan kondisi dalam program.
4.            Evaluasi dan perubahan yang diharapkan.


Dari dua model tersebut, dapat dilihat langkah-langkah dalam penyusunan rencana dan kebijakan kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diantaranya:

1.            Merumuskan rencana.
2.            Mengenali masalah.
3.            Mengenali ruang lingkup masalah.
4.            Mengenali kebutuhan dan proses seleksi.
5.            Menentukan kondisi belajar dengan memfokuskan pada fisik dan mental siswa dalam mengembangkan karakteristik.
6.            Menentukan kondisi kebutuhan dengan memfokuskan pada pelajar.
7.            Mencocokan keadaan dengan rencana.
8.            Menentukan prioritas.

9.            Menjamin kelanjutan penyelenggaraan pendidikan pada masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar