1.
Pengertian
Kearsipan
Terry
menyatakan bahwa kearsipan (filling) adalah penempatan kertas-kertas dalam
tempat-tempat penyimpanan yang baik menurut aturan yang telah ditentukan
terlebih dahulu sedemikian rupa sehingga setiap kertas atau surat apabila
diperlukan dapat ditemukan kembali dengan mudah dan cepat. Sedangkan Maulana merumuskan arsip sebagai tulisan
yang dapat memberikan keterangan tentang kejadian dari pelaksanaan organisasi.
Dan The Liang Gie mendefinisikan
arsip sebagai kumpulan warkat yang disimpan secara sistematis karena mempunyai
kegunaan agar setiap kali diperlukan dapat secara tepat diketemukan kembali.
Jadi, kegiatan menyimpan
keterangan-keterangan sebagai suatu aktivitas tatausaha dalam kenyataannya
berupa kegiatan menaruh warkat-warkat dengan berbagai cara dan alat ditempat
tertentu yang aman agar tidak rusak dan hilang.
Dari asal kata dan definisi yang
dikemukakan diatas, dapat ditarik beberapa unsur yang terkandung dalam istilah
arsip diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Adanya
tulisan yang dapat memberikan keterangan tentang peristiwa yang dialami
organisasi kantor.
b. Berkas
yang disimpan dalam organisasi sebagai pengingat bagi pimpinan organisasi.
c. Kumpulan
surat-surat atau warkat organisasi kantor yang disimpan secara teratur menurut
urutan yang telah ditetapkan dan apabila diperlukan dapat ditemukan dengan
mudah.
d. Lembaran
catatan ataupun dalam bentuk lain yang disimpan untuk keperluan pengingat
apabila diperlukan.
e. Adanya
tempat penyimpanan warkat atau surat-surat yang bersifat khusus dalam sebuah
kantor.
2.
Fungsi
Arsip dalam Manajemen Perkantoran
Dalam manajemen perkantoran arsip mempunyai nilai
guna dan fungsi yang cukup penting terhadap kelancaran suatu organisasi kantor,
adapun fungsi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Sebagai
bahan keterangan bagi segenap anggota organisasi untuk kelancaran tugas
masing-masing.
b. Sebagai
bahan untuk mengorganisasian pekerjaan kantor.
c. Sebagai
sumber data bagi pimpinan untuk melihat hasil pekerjaan masa lampau.
d. Sebagai
alat untuk memberikan keterangan penting tentang organisasi kepada semua pihak,
sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku.
e. Sebagai
alat untuk mengambil keputusan bagi seorang pimpinan dalam kebijaksanaan
organisasi.
f. Sebagai
bahan pertimbangan untuk rencana selanjutnya bagi organisasi yang bersangkutan.
g. Sebagai
bahan untuk mengontrol kegiatan organisasi kantor.
3.
Bentuk-Bentuk
Arsip
Menurut
besar frekuensi pengeluarannya, arsip dapat dibedakan :
a. Arsip
aktif, yaitu frekuensinya yang dalam waktu tertentu misalnya dalam jangka waktu
satu tahun pengeluaran arsip tersebut lebih kurang 10 kali.
b. Arsip
inaktif, yaitu frekuensi pengeluaran arsip tersebut selama 3 tahun sama sekali
tidak pernah dikeluarkan.
Sedangkan
dalam Undang-undang No.7 tahun 1971 tentang ketentuan pokok kearsipan dapat
dibedakan :
a. Arsip
dinamis, yaitu arsip yang dipergunakan secara langsung dalam perencanaan
pelaksanaan penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya.
b. Arsip
statis, yaitu arsip yang tidak dipergunakan secara langsung untuk perencanaan,
penyelenggaraan kehidupan kebangsaan.
4.
Sistem
Penyimpanan Arsip
Sistem penyimpanan arsip merupakan suatu cara untuk
menentukan pengaturan dan penyusunan arsip sesuai dengan klasifiksi yang telah
ditentukan. Adapun hal-hal yang diperlukan sebagai penataan arsip adalah :
Sistem penyimpanan arsip dimaksudkan agar warkat
atau catatan dapat terjaga keamanannya dan apabila diperlukan mudah ditemukan
kembali. Klasifikasi atau penggolongan sistem penyimpanan arsip diantaranya :
a) Sistem
Abjad (alphabetic Filling)
Penyimpanan
ini berdasarkan atas urutan abjad dengan pemberian kode warkat atau surat yang
akan disimpan dalam arsip mulai dari abjad A-Z. Kode abjad diindeks dari nama
orang, organisasi, atau badan lain yang sejenis.
b) Sistem
Pokok Soal (subject Filling)
Penyimpanan
arsip didasarkan atas perihal surat (pokok soal isi surat). Dalam
penyelenggaraan sistem ini perlu ditentukan lebih dahulu masalah yang dihadapi
sehari-hari. Masalah tersebut dibedakan sebagai kegiatan utama, kegiatan
pembantu dan kegiatan-kegiatan lanjutan.
c) Sistem
Tanggal (Kronologis)
Sistem tanggal
merupakan penyimpanan arsip yang didasarkan atas tanggal surat atau tanggal
penerimaan surat tersebut. Untuk surat-surat masuk sering penyimpanannya
didasarkan atas tanggal penerimaan surat. Tetapi untuk surat-surat keluar
arsipnya disimpan berdasarkan tanggal yang tertera pada surat.
a) Sistem
Nomor (Numeric Filling)
Sistem
nomor dalam penyimpanan arsip dimaksudkan bahwa arsip-arsip yang akan disimpan
diberi nomor kode dengan angka-angka. Dan perlu diperhatikan bahwa dengan nomor
ini sebagai kode penyimpanan, jangan disamakan dengan nomor surat. Jadi nomor
surat jangan diidentikan dengan nomor kode penyimpanan arsip.
b) Sistem
Wilayah (Geographic Filling)
Sistem wilayah
merupakan penyimpanan yang dikelompokkan atas wilayah-wilayah tertentu. Dalam
hal ini dapat mengelompokkannya didasarkan atas pembagian pulau-pulau ,
provinsi, kota\ atau menurut tingkat kecamatan dan kelurahan.
1 . Cara-cara
Penyimpanan Arsip
a. Secara sentralisasi,
dimana penyimpanan arsip yang dipusatkan pada suatu unit tersendiri pada semua
arsip yang terdapat pada organisasi tersebut.
b. Secara desentralisasi, dimana setiap unit
menyelenggarakan kegiatan kearsipan sendiri-sendiri.
EFISIENSI
DAN EFEKTIVITAS SISTEM KEARSIPAN
1.
Asas-Asas
Efisiensi dalam Pekerjaan Perkantoran
Penataan
terhadap sistem kerja harus selalu berkiblat pada efisiensi. Efisiensi sangat
perlu untuk dijadikan satu-satunya dasar pemikiran, ukuran baku, dan tujuan
pkok bagi semua pelaksanaan kerja ketatausahaan. Efisiensi adalah suatu asas
dasar tentang perbandingan terbaik antara suatu usaha dengan hasilnya. Perbandingan ini dapat dilihat dari 2 segi yaitu :
a) Segi
Usaha. Suatu kegiatan dapat dikatakan efisiens kalau sesuatu hasil tertentu
tercapai dengan usaha yang sekecil-kecilnya. Pengertian “usaha” dapat
dikembalikan pada 5 unsur yang dapat juga disebut sumber-sumber kerja yakni:
pikiran, tenaga, ruang, dan benda.
b) Segi
Hasil. Suatu kegiatan dapat disebut efisien kalau dengan suatu usaha tertentu
memberikan hasil yang sebanyak-banyaknya, baik yang mengenai mutunya ataupun
jumlah satuan hasil itu.
a. Asas
Perencanaan
Merencanakan
berarti menggambarkan di muka mengenai tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan
dalam rangka mencapai suatu tujuan. Perwujudan asas ini dalam bidang tata usaha
dapat berupa pedoman-pedoman berikut:
·
Pedoman tentang maksud warkat
·
Pedoman tentang penerapan prosedur
·
Pedoman tentang pengadaan mesin
tatausaha
·
Pedoman tentang perencanaan formulir
b. Asas
Penyederhanaan
Menyederhanakan
berarti membuat suatu sistem yang ruwet atau pekerjaan yang sukar menjadi lebih
mudah atau ringan. Pelaksanaan asas ini adalah sebagai berikut:
·
Pedoman tentang tatacara
·
Pedoman tentang perlengkapan tatausaha
·
Pedoman tentang pengorganisasian
tatausaha
c. Asas
Penghematan
Menghemat
berarti mencegah pemakaian benda-benda secara berlebihan sehingga biaya
pekerjaan yang bersangkutan menjadi mahal. Asas ini dapat dilaksanakan dalam
pedoman-pedoman yang berikut:
·
Pedoman tentang Perhitungan Biaya dan
Kemanfaatan
·
Pedoman tentang Perhitungan Kebutuhan
Warkat
·
Pedoman tentang Mekanisasi Tatausaha
d. Asas
Penghapusan
Menghapuskan
berarti meniadakan langkah-langkah atau kegiatan-kegiatan dalam pelaksanaan
sesuatu pekerjaan yang dianggap kurang perlu atau tidak berhubungan dengan
hasil kerja yang ingin dicapai. Pelaksanaan asas ini dapat diwujudkan dalam
pedoman-pedoman berikut:
·
Pedoman tentang Peniadaan Gerak-gerak
dalam Pekerjaan
·
Pedoman tentang Penghapusan
Tembusan-tembusan atau Warkat-warkat Lainnya
e. Asas
Penggabungan
Menggabungkan
berarti mempersatukan pekerjaan-pekerjaan yang mempunyai persamaan atau
benda-benda yang mungkin dikerjakan sekaligus dalam satu langkah sehingga dapat
menghemat waktu kerja. Pedoman-pedoman pelaksanaan asas ini adalah sebagai
berikut:
·
Pedoman tentang Kerja Sekali Jalan
·
Pedoman tentang Pemakaian Alat-alat
Serbaguna
1.
Penerapan
Efisiensi Perkantoran
Seberapa
besar beban kerja relative dari seorang pegawai atau karyawan, unit kerja dan
organisasi atau perusahaan dapat menjadi dasar rekomendasi untuk:
a) Menentukan
Jumlah Kebutuhan Pegawai atau Karyawan (SDM)
b) Menyempurnakan
(Redesign) Tugas Jabatan
c) Menyempurnakan
(Redesign) Struktur Organisasi
d) Menyempurnakan
(Redesign) Standard Operating
Procedure (SOP)
e) Menentukan
Standar Waktu (Standard Time) Tugas
dan Aktivitas
f) Menentukan
Kebutuhan Pelatihan (Training Needs)
Pegawai atau Karyawan.
Dengan
mengimplementasikan kegunaan hasil analisis beban kerja maka diharapkan
organisasi atau perusahaan akan dapat memperoleh tingkat efisiensi yang lebih
baik atau tinggi dari para pegawai atau karyawan, yang pada gilirannya
diharapkan akan mampu meningkatkan tingkat produktivitas organisasi atau perusahaan.
2.
Penggolongan
Efisiensi dan Prinsip Efisiensi
Berdasarkan
asas dan pedoman-pedoman efisiensi diatas, dapat diperinci lebih lanjut
cara-cara bekerja yang efisien yang perlu dilaksanakan dalam setiap kantor
modern. Sejalan dengan adanya 5 unsur usaha atau sumber kerja, maka pelaksanaan
efisiensi pada macam-macam kerja digolongkan menurut penggunaan masing-masing
sumber kerja itu:
a. Pikiran
– untuk mencapai cara yang termudah
b. Tenaga
– untuk mencapai cara yang teringan
c. Waktu
– untuk mencapai cara yang tercepat
d. Ruang
– untuk mecapai cara yang terdekat
e. Benda
– untuk memncapai cara yang termurah
4. Pola klasifikasi, kode, dan indeks
a.
Pola Klasifikasi dan Kode
Pola klasifikasi dan
Kode untuk digunakan dalam penemuan kembali file/arsip memang banyak ragamnya.
Misalnya Pola Klasifikasi DDC, UDC. Fungsi dan kegiatan dari instansi tersebut
mewujudkan subyek-subyek dan kemudian dikelompokan sehingga akan terdapat
beberapa kelompok utama atau disebut main subject. Selanjutnya main subject ini
dapat dikelompokan menjadi kelompok yang lebih kecil lagi yang disebut sub
subject dan sub-sub subject kalau dipelukan.
b.
Kode penyimpanan
Pada prinsipnya bidang filling/kearsipan dalam
penggunaan kode penyimpanan sama seperti yang terdapat pada bidang
perpustakaan. Apa yang di cita-citakan oleh Melvil Dewey dalam menggunakan kode
dalam perpustakaan, maka digunakan pula di dalam penyimpanan file kerja/arsip
dalam suatu kantor.
c.
Indeks
Selain dari kode penyimpanan maka terdapat pula
indeks sebagai pembantu untuk lebih mempercepat penemuan kembali file kerja/
arsip. Pada zaman pemerintahan belanda indeks ini telah dikenal pula sebagai
“klapper” disusun berdasarkan abjad. Demikianlah dalam sistem ini, indeks
disusun berdasarkan :
a. Nama orang, nama instansi, dan nama
wilayah.
b. Subyek.
c. Nama orang yang mempunyai gelar
bangsawan/ gelar kesarjanaan.
d. Nama
keluarga majemuk (compound surname)
5. Efisiensi dan Efektivitas Kearsipan
Tercapainya efisiensi dan efektivitas dalam
penyimpanan arsip sangat ditentukan oleh beberapa hal., diantaranya pertama,
konsistensi seorang petugas kearsipan untuk memegang teguh prinsip penyimpanan
arsip, yakni: aman, awet, up to date, dan efisien serta efektif. Kedua, seorang
petugas kearsipan dituntut professional dalam menjalankan tugas kearsipan,
yaitu mempunyai keahlian dan pendidikan khusus tentang kearsipan, terutama
berhubungan dengan keterampilan, ketelitian, kerapihan, kesabaran, dan memegang
rahasia. Ketiga, sistem penataan arsip, yakni penataan arsip pada berkas dengan
mengatur, menyusun berkas-berkas sesuai pola klasifikasi kearsipan dengan
melakukan penyortiran surat, meneliti surat, mengelompokkan surat, pemberian kode klasifikasi dan pemberian
daftar indeks. Keempat, peralatan yang digunakan dalam penataan berkas untuk
penyimpanan arsip. Kelima, membentuk berkas yaitu setelah surat atau arsip
dibubuhi tanda simpan maka tahap pertama dibuatlah kerangka penataan berkas.
Keenam, penataan kartu kendali yaitu: penataan yang didasarkan indeks sesuai
penataan berkas dalam filing cabinet atau secara alphabets nama intansi.
Selanjutnya pemeliharaan arsip
dimaksudkan agar arsip terjaga dari gangguan kehancuran dan kerusakan serta
penyusutan. Pemeliharaan arsip dapat dilakukan dengan cara: pertama, pengaturan
ruangan dengan kondisi khusus untuk ruang kearsipan dengan mengatur tingkat
kelembapan ruang tersebut. Kedua, melakukan pemeliharaan tempat penyimpanan dengan
melakukan pengecekan dan kebersihan dari setiap arsip yang disimpan. Ketiga,
penggunaan bahan-bahan pencegah timbulnya jamur atau bentuk binatang perusak
kertas dengan mengontrol kondisi berkas masing-masing arsip. Keempat, tetap
menjaga kebersihan ruangan, sarana, dan arsip itu sendiri agar tidak cepat
rusak dalam waktu lama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar